Minggu, 01 Juni 2014
Minggu, 25 Mei 2014
ROTI ATAU TAI ???
Selamat, atas kelulusan yang sudah diraih oleh adik-adik kelas VII SMP dan kelas XII SMK/SMA. Selamat juga untuk adik-adik yang diberikan rezeki dalam bentuk yang lainnya yakni berupa ketidak-lulusan. Kenapa seperti itu? Karena lulus ujian nasional bukanlah tolak ukur bagi kesuksesan kehidupan di dunia apalagi kesuksesan kehidupan di akhirat.
Tolong jangan senang dan berbangga dulu dengan sebuah kelulusan. Karena pada dasarnya, yang lulus bukan berarti dia lulus dalam kelulusannya. Begitu juga sebaliknya, yang tidak lulus belum tentu tidak lulus dalam ketidak-lulusannya. Contohnya, Apa kalau sudah mendapat nilai Bahasa Inggris 10,00 lalu dia akan handal berbahasa inggris? Tidak, padahal nilai B.Inggris 10,00 sudah jamak terjadi dalam hasil UN kali ini. Itu menandakan bahwa sebenarnya dia tidak lulus.
Padahal seumpama memang benar tidak lulus, itu juga bukan merupakan sebuah kehinaan. Anda bisa-bisa saja lulus dalam kehidupan ini tanpa harus lulus Ujian Nasional. Karena anta faizun lihayatika, kamu adalah juara dalam kehidupanmu sendiri. Lebih baik kalah terhormat daripada menang atau lulus tapi tidak bermartabat.
Jangan terburu-buru dulu bangga akan kelulusan dan kemenangan, apalagi jika kelulusan dan kemenangan itu hanyalah sebuah hasil rekayasa. Rekayasa mulai tingkat Sekolah, Rayon, Kabupaten/Kota sampai rekayasa Nasional. Hal ini mulai terbuka dan terbukti pada tahun 2014 ini, ada sebuah rekayasa besar di kabupaten lamongan, dimana melibatkan puluhan guru dan kepala sekolah. Kasus inipun menjadi sorotan nasional, bukan berarti kasus itu berhenti di situ. Ditingkat atas seperti tingkat provinsi dan nasional pasti juga terjadi hal yang sama, hanya saja belum terbongkar dan terbukti. Jika sudah seperti itu, masih banggakah dengan sebuah arti kelulusan UN?
Dalam sebuah analogi, ketika orang dalam keadaan kesusahan dan kelaparan sehingga tidak memiliki kemampuan untuk memakan apa-apa maka muncullah insting untuk dapat bertahan hidup yakni dengan memakan apa yang ada disekitarnya termasuk Tai-nya sendiri. Memang pada awalnya akan terasa menjijikkan, tidak enak, dan tidak bisa dibayangkan rasanya. Akan tetapi kalau tai itu terus dimakan setiap harinya, tai itu tidak ada pembanding makanan lainnya, tai itu dimakan dalam kurun waktu yang lama. Maka suatu saat tubuh akan terus beradaptasi hingga sampai pada evolusi sehingga tubuh menganggap tai itu adalah makanan pokoknya. Ketika ditawari makanan lain seperti roti misalnya, yang ada adalah penolakan dalam tubuh. Lidah dan indra perasa akan tidak suka dengan roti, roti dianggap menjijikkan, tidak menyehatkan, rasanya tidak enak dan roti akhirnya dianggap sebagai tai. Ketika disuruh memilih roti atau tai maka dengan lantang dan tegas pilihan jatuh pada TAI.
Begitu juga dengan Ujian Nasional beserta sistemnya saat ini, tai yang sudah diolah sedemikian rupa karena memang tidak ada makanan yang lainnya, tai itu direkayasa dengan maksimal agar timbul aroma dan rasa yang seperti roti, sehingga kita akhirnya mampu mengamini bahwa tai itu adalah roti.
Di dunia ini memang antara gelap dan terang terjadi silih berganti, oleh karena itu setiap manusia pasti berisi terang dan gelap. Ada sebuah ungkapan, “Kebathilan itu salah satu tentaranya kebenaran.” Cahaya justru akan muncul pada sebuah kegelapan. Walaupun orang Indonesia saat ini sudah lupa dan tidak tahu bahkan tidak mampu lagi membedakan mana roti dan mana tai karena saat ini orang Indonesia sudah sangat mampu beradaptasi dan menyesuaikan diri dimana rasa tai bisa dijadikan roti.
Kita tidak akan mampu lagi bangkit dari semua ini sampai kita mempunyai ilmu yang benar dan tepat mengenai mana ROTI dan mana TAI sehingga harapan bahwa Cahaya akan muncul pada sebuah kegelapan masih ada dan akan terus ada. ()
Ditulis Oleh: Abdul Rozaq.
Gresik, 24 Mei 2014
Disarikan dari Padhang mBulan Mei 2013
Kamis, 15 Mei 2014
PARADE BUNGA DAN BUDAYA 2014
Dalam rangkaian Hari Jadi Kota Surabaya ke 721 pada tahun 2014, Pemkot Surabaya mengadakan berbagai acara, salah satunya adalah Parade Bunga dan Budaya yang dilaksanakan tanggal 4 Mei 2014. Acara ini adalah agenda tahunan Kota Surabaya yang salah satu tujuannya untuk menarik datangnya wisatawan ke kota surabaya.
Parade ini mengambil start di Tugu Pahlawan dan berakhir di Balai Kota Surabaya. Walaupun pada saat pelaksanaan terjadi hujan yang sangat lebat tetapi hal itu tidak menyurutkan semangat peserta parade dan animo masyarakat surabaya untuk menyaksikan kegiatan ini.
berikut ini berbagai penampilan para peserta parade bunga dan budaya :
Sabtu, 10 Mei 2014
URBAN STYLE U9
Promo HP U9 dengan judul URBAN STYLE yang dilaksanakan oleh Top Sell pada hari minggu 11 Mei 2014. Salah satu acaranya yakni fashion show. berikut foto-fotonya :
Jumat, 02 Agustus 2013
MBAH SYAWAL DAN SILATURAHMI TANPA TEPI.
Mbah Syawal adalah sosok seorang kakek yang bisa memberikan tauladan bagi anak cucunya. Mbah Syawal merupakan pria kelahiran Jombang 5 Mei 1931 dan wafat di Mojokerto tanggal 8 November 2001, banyak pelajaran kehidupan yang bisa diambil dari sosok Mbah Syawal. Mulai dari tanggung jawabnya kepada keluarga, religiusitasnya, jiwa kewirausahaannya, kasih sayangnya, dan lain sebagainya sampai kebiasaan bersilaturahimnya.
Yang menjadi garis bawah saya saat ini adalah sebuah kebiasaan bersilaturahim Mbah Syawal. Berbagai model silaturrahmi pernah dijalani Mbah Syawal, kemanapun Mbah Syawal pergi ke suatu kota maka disempatkanlah berkunjung ke rumah saudara yang ada di kota itu walaupun hanya barang sesaat. Ketika ada kunjungan ke pabrik jamu “air mancur” di daerah karanganyar maka disempatkannya mampir di rumah adiknya di daerah stadion Manahan Solo. Ketika rekreasi ke Jakarta sama keluarga maka disempatkan juga untuk mengunjungi rumah saudara yang ada disana.
Mbah Syawal juga selalu istiqomah mengajak Lek Mat, satu-satunya putra lelakinya Mbah Syawal untuk berkunjung Halal bi Halal ke ndalem-nya para kiai di mojokerto dan yang rutin adalah sowan ke KH.Achyat Chalimi dan Kiai Mail di setiap lebaran. Bahkan saat ini ketika saya berkunjung sama ayah ke Ndalemnya KH.Makinuddin Qomari putranya Kiai Mail yang kini menjadi Ketua Takmir Masjid Agung Al-Fattah dan ditanya,”Pundi dalemipun pak?” Sontak saya jawab “sinoman kiai.” Lalu ditanya kembali,”Nopone pak syawal?”, dengan senyum ayah menjawab,”Nggeh niki putune, kiai” Beliau sangat hafal tentang Mbah Syawal dan masih menanyakan kabar Lek Mat putra kecilnya Mbah Syawal yang dulu sering diajak ngaji ditempatnya.
Selain itu jika mendengar ada tetangga atau saudara yang meninggal, pasti Mbah Syawal selalu menyempatkan ngelayat dimanapun tempatnya walaupun kadang hanya sekedar mensholati jenazahnya. Mbah Syawal juga istiqomah dalam ziarah kubur, silaturrahmi dengan ahli kubur sekaligus merawat kebersihan makamnya.
Mbah Syawal tak terlalu memikirkan untung ruginya melakukan silaturrahmi, yang ada hanyalah pentingnya menyambung paseduluran dan tidak sampai ada yang kepaten obor. Beliau mampu bersilaturrahmi dengan siapapun, dengan saudara, tetangga, teman dan bahkan dengan kucingnya yang bernama jliteng. Bahkan karena saking akrabnya dengan jliteng, jliteng pasti siap menyambut Mbah Syawal di depan gang seusai beliau berjualan dan mengikuti Mbah Syawal sampai rumah.
Semua itu hanya efek domino saja dari silaturrahmi, tak berharap apapun tapi justru mendapatkan lebih dari yang diperkirakan. Bukankah dengan bersilaturrahmi bisa memperpanjang umur dan menambah rezeki?
Saya hanya berharap untuk bisa melanjutkan kebiasaan hebat tersebut, belajar bergaul dengan siapapun, mulai kiai hingga santri, orang jalanan sampai orang mapan, rekan kerja sampai para siswa. Belajar jika pergi kemanapun berusaha menghubungi kenalan yang ada di kota itu dan sekedar mampir sebentar, menghadiri hajatan dan nikahan teman-teman lama di berbagai penjuru kota, berziarah kubur dari ziarah wali hingga makam keluarga, Halal bihalal dengan guru-guru mulai SD hingga SMA dan berusaha menjalin pertemanan dengan siapapun dan berharap semua itu hanya berlandaskan keihklasan tanpa sebuah kepentingan.
Biasanya kita bergaul hanya demi sebuah kepentingan, kita bergaul dengan teman sekolah karena kepentingan sekolah, kita bergaul dengan rekan kerja karena kepentingan pekerjaan, dan kita bergaul dengan siapa saja karena sebuah kepentingan yang cenderung sama. Bergaul dengan berbagai kepentingan dan modus yang terbuka sampai yang tersembunyi.
Jarang ada yang bisa seperti Mbah Syawal yang bisa melakukan silaturrahmi tanpa tepi, dengan siapapun tanpa kepentingan apapun. Hingga pada akhir hidupnya Mbah Syawal, jumlah orang yang takziyah sangat banyak bila dibandingkan dengan meninggalnya orang kampung seperti biasanya. Sebuah silaturrahmi tanpa tepi yang telah diciptakan oleh Mbah Syawal. Dan gema bacaan tahlil yang dipimpin KH.Makinuddin Qomari mengantar jenazah Mbah Syawal ke peristirahatannya yang terakhir. Innalillahi wa innalillahi roji’un.
Khususon ila ruuhi Mbah Syawal, lahumul fatikhah….
Gresik, 3 Agustus 2013
Kamis, 13 Desember 2012
SECERCAH SENYUM HAMPA
Mungkin ini sudah irama kita.
Kita jauh tapi dekat, ketika dekat jarak itu makin jauh.
Kita nikmat dengan kedekatan kita yang jauh,
Yang kadang kaku sekeras batu walaupun rindu,
Yang kadang kita saling bantu dengan secercah kelu.
Aku ada, kamu berada.
Tak sirna tak juga jumpa.
Aku untuk dia, kamu untuknya.
Terima kasih walau itu hanyalah sebuah senyum hampa.
jdk-lmg-nme
352235-131212-465275
jdk-lmg-nme
352235-131212-465275
Senin, 22 Oktober 2012
NOTASI WAKTU*
Kumainkan jemari waktu diatas tuts kehidupan
Untaian nada berdetak meninggalkan masanya
Simfoni itu telah diperdengarkan,
Oleh waktu, ruang dan peran.
Hamparan nada terus bergerak, berputar
Mencipta irama, mencipta rasa
Titik tolak dari esensi estetika
Sang pujangga melukis syairnya dengan rasa
Syair itu dalam mengalir
Belajar dari satu not ke not berikutnya
Mengantar mencapai puncak sunyi sebuah irama
Hingga temukan masanya
Selamat kawan, kau sudah temukan masamu kini
Jangan berhenti sampai bait jika kau ingin jadi baris
Karena seusai baris, syairpun menunggu
Hidup ini bagai irama, yang merdu mengalun
Ciptakan irama-irama baru
Dengan berbagai nada yang kau punya
Temukan ritme kehidupanmu dengan notasi waktu.
Selamat Wisuda Kawanku….
*) Abdul Rozaq
Menganti, 19 Oktober 2012
Catatan pengantar wisuda
Langganan:
Postingan (Atom)









