Kamis, 24 Mei 2012

DOA PERNIKAHAN

Sajak: Emha Ainun Nadjib

Ya Allah wahai Maha Pengasuh ummat manusia
Sesungguhnya nikah adalah gagasan-Mu
Sesungguhnya nikah adalah karya-Mu
Sesungguhnya nikah adalah perintah-Mu
Maka Engkau pulalah yang sesungguhnya menyiapkan
singgasana pelaminan bagi siapapun hamba-hamba-Mu
yang melakukannya
Engkau pulalah yang melimpahkan rizqi, baik rizqi yang
berada di dalam perhitungan mereka, maupun rizqi
yang tak bisa mereka duga
Engkaulah yang menyediakan rumah, membangun mahligai
persemayaman melalui ketekunan kerja dan
kreativitas akal fikiran mereka
Serta Engkaulah yang mempekerjakan para Malaikat-Mu
untuk turut membantu memelihara kemesraan mereka
mempertahankan kenikmatan mereka
untuk senantiasa saling setia di antara mereka berdua

Ya Allah wahai Maha Penuntun semua hamba
Sesungguhnya nikah adalah ungkapan cinta-Mu sendiri
kepada ummat manusia karya terbaik-Mu
Sesungguhnya nikah adalah pancaran gairah kasih sayang-Mu
untuk mempersatukan semua ciptaan-Mu dengan
diri-Mu sendiri
Maka bagi hamba-hamba-Mu yang menikahkan diri mereka
demi mentaati-Mu
Limpahilah bekal cinta yang sejati dan abadi
Tenaga kasih sayang yang tanpa ujung
Keluasan jiwa yang seluas cakrawala
Untuk saling menampung di antara mereka
Untuk saling menjadi ruang
Untuk saling memuaikan penghormatan dan pemahaman
Sehingga cinta mereka senantiasa segar dan dewasa

Ya Allah Wahai Maha Pengayom ummat manusia
Sesungguhnya hanya Engkaulah yang memiliki hak
dan perkenan untuk menikahkan setiap makhluk-Mu
Maka pada hakekatnya Engkaulah yang telah meng-akad
Nikah-kan kedua mempelai yang berbahagia
dan berbunga-bunga wajahnya
Engkaulah yang mempertemukan hati mereka
Engkaulah yang mempertautkan cinta mereka
Engkaulah yang memperjalankan mereka di lorong
kasih sayang yang panjang dan jauhnya
tak berakhir kecuali di halaman rumah cinta-Mu sendiri
Engkau mengerahkan para Malaikat-Mu untuk
menaburkan wewangian Rahman Rahim
di dalam jiwa mereka
Engkau memerintahkan pada Ruh yang terjaga kesuciannya
untuk menabuh rebana-rebana kebahagiaan mereka
Meniupkan seruling ar-Rauf, menggesek dawai al-Wadud
Serta menggemintangkan suara tambur Hanan Mannan

Ya Allah wahai Maha Pemeluk Kasih dan Pendekap Sayang
Kami semua yang hadir berkerubung di ruangan
sakinah mawaddah dan rahmah-Mu malam ini
Kami yang datang berkumpul dan menghirup aroma cinta
dan aura tekad kesetiaan di lubuk kalbu
mempelai berdua
Dengan segala kerendahan hati memohon kepada-Mu
Berdasarkan hakekat Ahad dan Wahid-Mu
Berakarkan makrifat Nur Muhammad-Mu
Agar jangan izinkan siapapun dan apapun mendekat pada
kedua mempelai, kecuali yang Engkau pekerjakan
untuk memperteguh cinta mereka
Jangan perkenan benda dan peristiwa apapun menimpa
mempelai berdua, kecuali yang memang Engkau
perintahkan untuk mengekalkan pertalian mereka

Ya Allah wahai Maha Pengasuh, asuhlah mereka di dalam
keindahan cinta-Mu
Ya Allah wahai Maha Pengayom, ayomilah mereka di dalam
Melimpahnya perlindungan dan rizqi-Mu
Ya Allah wahai Maha Penuntun, tuntunlah perjhttp://www.blogger.com/img/blank.gifalanan cinta
mereka menelusuri kebun ilmu kebenaran-Mu {}

* Doa pernikahan Emha Ainun Nadjib untuk putra pertamanya, Sabrang Mowo Damar Panuluh (Noe Letto)

Jumat, 27 April 2012

EKSOTISNYA JOGJAKARTA


Trip Repport “PRAMUKA ke JOGYA, Backpacker ala Alumni Gudep Gajahmada-Tribuana” (bagian 2 - habis)

Jum’at pagi tanggal 23 Maret 2012, hujan deras mengguyur bumi Jogjakarta sejak fajar belum menyingsing. Mau tidak mau perjalanan hari ini untuk menyusuri Jogjakarta sedikit tertunda. Karena hari jum’at merupakan hari yang pendek maka kami sadar jika kami harus bergegas berangkat agar bisa mengunjungi berbagai tempat yang sudah masuk dalam list perjalanan kami. Begitu hujan reda dan matahari mulai menampakkan dirinya maka kami langsung bergegas berangkat. Kami keluar  dari perumahan  ambarukmo 3 menuju depan plaza ambarukmo untuk mencari bus trans jogja yang akan membawa kami ke malioboro.

Setelah menunggu, bis jalur 1A merapat ke halte dan kami naik setelah terlebih dahulu membeli tiket elektroniknya  di halte tersebut. Bus membawa kami ke kawasan malioboro, tak lebih dari 20 menit kami telah sampai di halte malioboro 2. Jam di tangan sudah menunjukkan pukul 09.00 pagi, rasa lapar telah menggoda perut kami yang sejak kemarin malam hanya terisi air dan gudeg stasiun saja. Tapi kami tahan dulu rasa lapar ini dan terus berjalan menyusuri jalanan malioboro yang masih sepi pada pagi itu.


Tepat di depan, tujuan keenam kami sudah tampak, yaitu Kantor Gubernur DIY. Karena kami tidak punya kepentingan apa-apa, maka kami tidak masuk ke kantor itu, cukuplah foto didepan gerbang kantor saja.. hehe…

Perjalanan kami lanjutkan kembali ke arah selatan, melewati lorong-lorong kios dan lapak-lapak pedagang yang mulai bergeliat menawarkan barang dagangan mereka. Tak lama maka tibalah kami di Pasar Beringharjo, pasar pusat batik di Jogja sekaligus tujuan ke tujuh perjalanan kami. Setelah berpose di depan bangunan pasar kami mulai masuk dan mengelilingi dalamnya pasar yang fenomenal tersebut. Cukup lama kami di dalam pasar  sampai perut ini protes untuk minta diisi terlebih dahulu.  1 jam sudah kami bergumul dengan berbagai macam batik di dalam pasar dan begitu oleh-oleh sudah di tangan kami langsung keluar pasar dan menikmati lotek khas malioboro di depan pasar beringharjo.

Perut kenyang, haripun sudah beranjak siang… jalan kakipun kembali kami lakukan. Tujuan kami selanjutnya adalah Benteng Vredeburg. Benteng Vredeburg berarti benteng perdamaian, benteng ini dibuat oleh belanda dengan tujuan untuk mengamati dan memantau setiap gerak-gerik yang dilakukan oleh pihak keraton. Memang Benteng ini terlatak tidak jauh dari keraton jogja, jaraknya hanya sekitar kurang dari 1 km saja. Didalam benteng ini terdapat 4 ruang diorama, gambar-gambar perjuangan, rute gerilyanya Panglima Sudirman serta berbagai benda bersejarah lainnya. Disitu kami sempatkan untuk naik keatas benteng, dari atas benteng tampak kemegahan Gedung Agung dan padatnya jalanan malioboro. Setelah kami rasa cukup berada di Benteng Vredeburg maka kami segera cabut dan beralih menuju Gedung Agung Jogjakarta.
Gedung Agung terlihat begitu cantik dari depan, salah satu Istana Kepresidenan ini cukup megah dan terawat. Sangat besar keinginan kami untuk bisa masuk ke dalamnya, sayangnya kami tak mengantongi izin yang cukup untuk itu. Maka dari itu kami harus puas memandangi Gedung Agung ini dari balik pagarnya yang kokoh. Setelah kami mengambil gambar secukupnya, kami melanjutkan perjalanan kembali untuk mencari spot-spot menarik lainnya.

Banyaknya loji atau bangunan cagar budaya di sekitar Malioboro membuat para pecinta fotografi dan wisata budaya menjadikannya sebagai surga bagi mereka, tentunya termasuk kami didalamnya. Kami sempatkan dalam perjalanan kami untuk mengabadikan antiknya Kantor pos besar  Jogja, eksotisme gedung BNI dan gedung BI serta Monumen Serangan Umum 1 Maret.

Selesai itu semua jam sudah menunjukkan pukul 10.20 WIB, padahal tidak lama lagi waktu sholat jum’at akan tiba. Dengan terpaksa akhirnya rencana untuk mengunjungi Museum Sonobudoyo kami batalkan, kami lebih memilih untuk mengunjungi Keraton Jogja.  Dalam perjalanan menuju keraton, kami bertemu dengan turis dari Italia, kebetulan mereka tidak tahu kemana arah keraton maka jadilah kami berangkat atau lebih tepatnya jalan kaki bersama menuju keraton dengan melewati tengah Alun-alun Utara. Begitu sampai di tengah Alun-alun dan mendekati beringin kembar, cuaca yang dari tadi pagi terik mendadak menjadi mendung dan hujan turun dengan lebatnya. Posisi kami dan turis Italia ini tepat berada di tengah Alun-alun dan tidak ada tempat untuk berteduh, jadilah kami lari pontang-panting untuk mencari Angkringan terdekat sebagai tempat berteduh.

Hujan turun tidak begitu lama,10 menit kemudian hujan sudah mulai reda dan kamipun langsung masuk keraton setelah sebelumnya membeli tiket terlebih dahulu. Begitu tiba didalam keraton kami hanya bisa terkesima melihat segala sesuatu yang ada didalamnya. Keraton Ngayogyakarta Hadinigrat ini begitu unik, mulai struktur bangunannya, para abdi dalemnya, benda-benda koleksinya, adat istiadatnya sampai pada aura mistiknya yang cukup untuk membuat bulu kuduk berdiri.

Karena harus segera menunaikan sholat jum’at, maka kami tidak bisa berlama-lama berada di dalam keraton. Ketika jam sudah menunjukkan angka 11.30 WIB, kami meninggalkan keraton dan disambut oleh Kusuma. Rencana awal dalam backpacker ini, kusuma adalah tour guide kami, tapi ternyata dia baru muncul sekarang, padahal kami sudah berkeliling jogja mulai kemarin. Tak dapat dipungkiri setelah melakukan perjalanan kaki dari pagi hari dengan beban tas yang cukup berat maka haus dan dahaga menyerang kami. Kami istirahat sejenak di angkringan terdekat sambil menikmati segelas es teh manis. Disitu kami sepakat untuk berpisah sementara, aku dan jauhar sholat jum’at di Masjid Gedhe Kauman sedangkan ifah dan kusuma tetap di angkringan sambil menunggu kami.

Setelah jum’atan usai kami bergegas melanjutkan perjalanan. Tujuan berikutnya adalah Museum kereta keraton. Kami tetap jalan kaki menuju kesana dan dibelakang kami, kusuma mengikuti dengan motornya. Didalam museum kereta ini berbagai macam jenis kereta keraton dipamerkan termasuk replika kuda penariknya juga dipamerkan bahkan dibuat persis seperti ukuran aslinya. Hawa mistis dalam museum ini terasa sangat kuat terlebih jika masuk dalam ruang utama museum, kata petugasnya jika kami beruntung maka kami akan mendapatkan sosok makhluk lain dalam hasil jepretan kamera kami.

Cuaca terik Jogja siang ini tak  menghalangi perjalanan kami, sebelum melanjutkan ke obyek wisata selanjutnya kami mampir di toko penjual oleh-oleh, kami beli bakpia pathok 25 dan jajanan khas jogja lainnya. Baru setelah itu kami jalan lagi melewati pasar burung ngasem untuk selanjutnya menuju Petirtaan Tamansari.

Tamansari adalah sebuah petirtaan milik keluarga keraton, terdapat beberapa kolam besar didalamnya dengan ornament-ornament disekitar kolam yang cukup cantik. Ada juga lorong-lorong di tamansari yang katanya bisa tembus ke laut kidul tempat Nyi Roro Kidul bermukim. Di tamansari kami juga menjumpai pembuat wayang kulit dan pembuat batik tulis, ada juga Masjid Soko Tunggal yang berada di depan komplek tamansari. Kami sudah janjian dengan krisna untuk melanjutkan perjalanan ke parangtritis, sambil menunggu krisna kami istirahat sejenak di masjid ini sambil men-charger­ baterai kamera kami yang akan habis. Hal ini juga dimanfaatkan ifah untuk membeli oleh-oleh dengan ditemani kusuma.

Sampai jam 14.45 krisna belum tiba juga di kawasan tamansari, padahal pada rencana awal seharusnya jam 15.00 kita sudah harus naik bus ke parangtritis sehingga kita masih bisa menikmati sunset di pantai parangtritis. Ternyata setelah dihubungi krisna masih terjebak macet  di dalam bus trans jogja, mau tidak mau kita ubah rencana yang ada. Tempat ketemuan yang semula di tamansari kita ubah di sekitaran tempat mangkal bus tujuan parangtritis di daerah jokteng wetan (pojok benteng wetan).
Sembari menunggu krisna sampai, kami juga bergegas berangkat ke jokteng wetan. Berhubung kami jalan kaki dan tidak tahu akan medan jalan yang akan dilalui serta hanya berbekal peta kecil, maka tentunya kami membutuhkan waktu yang agak lama. Capeknya kaki mulai terasa, apalagi beberapa kali ifah terlihat tertinggal dibelakang, kusuma juga sudah hilang entah kemana mendahului kami. Tiba di pojok benteng jam sudah menunjuk angka 15.20 dan krisna belum juga sampai, dia masih sampai di sekitaran malioboro dan terjebak kemacetan. Lama kami menunggu sampai akhirnya kusuma berangkat terlebih dahulu ke parangtritis.

Sekitar jam 16.00 dari kejauhan terlihat krisna berjalan dari halte bus trans jogja, kami langsung menyambutnya dan langsung tancap gas mencari bus ke arah “Paris”, sebutan khas jogja tentang parangtritis. Saat itu bus sudah penuh sesak dan mengharuskan kami berdiri jika ingin cepat sampai tujuan, dalam perjalanannya beberapa kali bus berhenti agak lama untuk mencari penumpang. Jam 16.50 kami tiba di jalanan pantai parangtritis, tidak lama kusuma menjemput dan mengajak kami langsung ke penginapan. Setelah berkenalan singkat dengan pemilik penginapan dan menunaikan shalat asar, kami bergegas menuju pantai untuk mengejar sunset.

Kusuma kami ajak tapi dia takut kemalaman, mengingat jalur yang dia tempuh untuk pulang agak jauh dan dia sendirian, kami juga tidak bisa memaksa mengingat pertimbangan yang dia gunakan adalah faktor keamanan. Untuk itu sebagai tanda perpisahan dan ucapan terima kasih dari kami, sejenak kami berfoto bersama di sekitar penginapan yang telah dia siapkan. Terima kasih kusuma, jasamu tak akan kami lupakan… hehehe… J

Di pantai pangtritis kami disuguhi oleh deburan ombak besar khas pantai selatan, angin lautnya menyejukkan jiwa kami. Sore ini pantai tidak terlalu penuh, beda jika kami berkunjung pada pagi hari. Disitu kami main kejar-kejaran, main ombak dan air pantai, berenang serta tentunya tak lupa hunting foto ditemani bendi parangtritis, olahraga paralayang serta lalu-lalangnya motor ATV. Saat itu matahari semakin menunjukkan sinarnya  yang terang pertanda sunset akan segera berlangsung dan subhanallah kami melihat sunset dengan sangat indah bahkan tak kalah indah dengan sunsetnya pantai kuta di bali. Kami terus menikmati suasana ini sampai keadaan pantai sudah setengah gelap. Walaupun kami berada di pantai cuma sekitar 1 jam tapi itu sudah lebih dari cukup menurut kami. Kami sangat puas melihat dan menikmati salah satu ciptaan Tuhan sore itu.

Setelah bersih diri serta shalat maghrib dan isya berjamaah, kami istirahatkan diri di teras penginapan setelah seharian penuh tenaga kami terkuras habis. Disertai canda tawa dan saling bercerita mengenai perjalanan hari ini, kami sangat bersyukur bisa menikmati beragam eksotisme Jogjakarta. Saat itu timbul pikiran iseng kami untuk menikmati pantai parangtritis pada malam hari tetapi mengingat suasana sekitar penginapan sudah sepi dan ada perempuan dalam rombongan kami maka jauhar serta krisna mensurvei terlebih dahulu keadaan pantai malam itu. Tak lama mereka kembali ke penginapan dan menurut mereka lebih baik membatalkan rencana ke pantai malam itu karena pantai sudah sangat sepi dan gelap sehingga tidak pantas dan berbahaya jika kami berangkat ke pantai malam itu.
Karena acara gagal, maka acara guyonan di teras penginapan kami lanjutkan kembali sambil menghitung keuangan kami hari itu. Proses penghitungan saat itu berlangsung begitu rumit, maklum karena uang kami tercampur satu sama lain, setelah didapatkan hasil hitungan ternyata dapat diambil kesimpulan bahwa perjalanan hari itu selain menghabiskan tenaga kami juga menghabiskan keuangan kami… hehehe.

Kami terus bercengkerama dan bergurau walaupun sudah larut malam, sekitar jam 24.00 aku memilih untuk istirahat terlebih dahulu karena besok juga akan melanjutkan perjalanan lagi sedangkan ifah, jauhar dan krisna baru tidur sekitar jam 3 pagi. Pada pagi hari menjelang subuh terdengar suara gaduh di sekitaran penginapan, banyak rombongan wisata datang dari berbagai daerah ke pantai parangtritis ini. Tak lama setelah itu  hujan turun dengan derasnya.

Jam 5 pagi kami bangun untuk sholat subuh, mandi dan persiapan untuk check-out. Setelah itu sekitar jam 05.30 kami berpamitan ke pemilik penginapan kemudian meninggalkan kawasan parangtritis untuk mencari bus tujuan terminal giwangan. Pagi itu kami batalkan 2 rencana kami, yang pertama kami tidak mengunjungi pantai lagi untuk melihat sunrise karena saat itu sedang hujan, sedangkan yang kedua kami membatalkan kunjungan kami ke candi prambanan karena sudah sangat tipisnya keuangan kami sehingga hanya cukup untuk beli tiket bus pulang serta makan 1 kali.

Kami tiba di terminal giwangan Jogjakarta sekitar jam 07.00, cukup lama juga kami berada di bus feeder ini. Baru pertama kali ini kami menginjakkan kaki di terminal giwangan sehingga begitu turun bus kota kami bingung mau naik bus di sebelah mana. Setelah sedikit bertanya dan muter-muter maka kami bisa menemukan bus yang akan kami naiki. Kami memilih Bus Sugeng Rahayu ATB (AC Tarif Biasa) dengan nopol W 7011 UZ dengan livery lumba-lumba yang sangat cantik, Bus ini merupakan armada terbaru dari PO Sumber Grup dan masih saudara dengan Sumber Kencono yang merupakan penguasa jalanan Surabaya-Yogyakarta.

Kami memilih untuk membeli tiket hanya sampai madiun, dengan tujuan agar kami bisa istirahat dan bisa menikmati pecel khas madiun.  Bus sugeng rahayu tiba di Terminal Tirtonadi Solo sekitar pukul 09.30 dan sampai di Terminal Madiun sekitar jam 12.00. Kami istirahat sejenak dan langsung menuju ke penjaja nasi pecel, maklumlah sejak pagi perut kami belum terisi apa-apa kecuali air.

Selepas mengisi perut kami lanjutkan kembali perjalanan pulang dengan menumpang Bus Sumber Selamat ATB dengan nopol W 7578 UY, bus ini juga merupakan salah satu bus PO Sumber Grup, masih saudara juga dengan Sumber Kencono dan Sugeng Rahayu. Perjalanan dengan bus yang kedua ini cukup mendebarkan karena bus sering mendahului kendaraan lainnya. Sampai pada akhirnya kami tiba di Terminal Kertajaya Mojokerto pada pukul 15.30 WIB. Walaupun perjalanan pulang ini memakan waktu selama 8,5 jam tetapi kami sangat puas  sekali. Jogjakarta sangat eksotis dan mempesona, tak ada rasa sesal dan kami akan selalu kangen dengan Jogjakarta, kota yang penuh dengan warisan budayanya. Alhamdulillah kami telah tiba dari perjalanan backpacker kami dengan selamat. ()


NB: bagi yang udah baca ditunggu komentarnya di kotak shoutbox sebelah atau komentar dibawah ya....^_^

Minggu, 15 April 2012

KAOS TOMBO KANGEN

LIMITED EDITION for KOMA BK 2007



Sudah hampir 1 tahun kita berpisah dengan teman2 BK A 2007, tentunya kengen dan rindu sesekali pernah terasa. banyak kebersamaan kita yang tidak mudah terlupa, album foto salah satu obat kangen itu, dan begitu melihat salah satu foto yang ada maka timbul keinginan untuk membuat kaos yang ada gambarnya anak2. Kaos spesial limited edition untuk KOMA BK A 2007, Monggo yang berkenan…

HARGA : Rp. 50.000,-

SPESIFIKASI:
1. Bahan : Cotton combed 20s, Sablon rubber/pigment, jahit rantai
2. Ukuran :
COWOK:
Ukuran = Panjang x Lebar
S = 61 X 45
M = 63 X 50
L = 67 X 52
XL = 71 X 55 tambah Rp.4000,-
CEWEK:
Ukuran = Panjang x Lebar Perut x Lebar Pinggang
S = 55 X 35 X 42
M = 58 X 37 X 45
L = 60 X 40 X 49
XL = 63 X 45 X 55

KETERANGAN :
1. Kaos system pre order, tidak ready stock
2. Waktu produksi 3 hari - 1 minggu setelah sesi transfer selesai. (7 -13 Mei 2012)
3. Produksi dilakukan jika semua pemesan telah membayar lunas.
4. Pemesanan dan pembayaran bisa dilakukan mulai tgl 17 April – 6 Mei 2012.
5. Kaos akan diproduksi jika telah memenuhi quota pesanan sebanyak 20 kaos.
6. Harga kaos Rp.50.000,- all size kecuali XL untuk cowok tambah Rp 4000,-
7. Harga belum termasuk Ongkos kirim.
8. Pengiriman menggunakan jasa JNE, berikut daftar Ongkirnya :
Blitar 17.500, bondowoso 17.500, bojonegoro 17.500, jombang 12.500, Kediri 12.500, lamongan 15.000, madiun 15.000, magetan 17.500, mojokerto 15.000, nganjuk 17.500, ngawi 17.500, pamekasan 20.500, ponorogo 17.500, sampang 20.500, trenggalek 16.000, tulungagung 16.000, atambua NTT 55.500, waingapu NTT 69.000, padang 33.000. Surabaya, Gresik, Sidoarjo Gratis ongkir tapi harus mengambil di kampus.

PEMESANAN :
SMS dengan format : nama, alamat lengkap dan kode pos (untuk memudahkan pengiriman), size dan jumlah kirim ke 0856 4680 3173. Contoh: Rozaq, Kranggan Gang 4 No.20 Kec.Prajuritkulon Kota Mojokerto Kodepos 61321, M, 1 buah.

PEMBAYARAN :
Pembayaran dilakukan dengan mentransfer total biaya (kaos+ongkir) ke : Rekening BRI a.n. Abdul Rozaq, nomor rekening 1157-01-001665-50-6. Setelah transfer segera sms dan simpan bukti pembayaran. Untuk daerah Surabaya, gresik dan sidoarjo bisa langsung bayar di kampus dengan janjian terlebih dahulu.




Selasa, 27 Maret 2012

PESONA YOGYAKARTA

Trip Repport “PRAMUKA ke YOGYA, Backpacker ala Gajahmada-Tribuana” (bagian 1)

Sungguh menyesal sekali apabila perjalanan ke yogya ini sampai tidak terlaksana, ungkapan itu yang aku ucapkan ketika pulang dari yogya. Begitu banyak daya tarik dan pesona Yogyakarta yang menancap dalam lubuk jiwa. Begitu banyak kenangan dari perjalanan tersebut. Sebuah perjalanan Backpacker ke Yogyakarta ala Alumni Gajahmada-Tribuana dengan tema “Pramuka ke Jogja”. Ya, inilah backpacker… Hanya dengan Rp.165.000,- kami sudah bisa mengunjungi sekaligus menyinggahi 21 tempat tujuan dalam waktu 3 hari 2 malam namun tentunya dengan banyak perjuangan yang harus dilakukan.
Perjalanan ini dimulai dengan berkumpul di Stasiun Mojokerto pada hari kamis 22 maret 2012, karena kami akan menumpang KA Sritanjung Relasi Banyuwangi-Yogyakarta PP. Jam sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB dan semua sudah berkumpul. Perjalanan ini sedianya akan diikuti oleh banyak orang tetapi karena kesibukan masing-masing maka banyak yang tidak jadi ikut sehingga tinggal 5 orang saja yang bisa berangkat. Pada siang itu ada kabar tidak baik, 1 orang lagi mengundurkan diri pada detik-detik akhir jelang keberangkatan karena ada tugas kuliah yang tidak bisa ditinggalkan. Maka jadilah aku, jauhar, krisna dan ifah yang berangkat. Tak apalah, perjalanan ini bukan paksaan kok, jadi siapa saja bebas untuk ikut atau tidak. Yang jelas perjalanan menuju Yogyakarta harus tetap berangkat. J
Sekitar pukul 14.25 WIB, KA Sritanjung mulai memasuki peron 2 Stasiun Mojokerto. Kami mendapat tempat duduk di kereta 4 dengan nomor tempat duduk 13A, 13B, 13C serta 14 B dan 14 C. sejenak kemudian kereta milik DAOP VI Jember ini mulai meninggalkan Stasiun Mojokerto menyusuri rel panjang menuju kota-kota di sebelah barat Mojokerto.
Riangnya canda tawa  terus mewarnai perjalanan dalam kereta tersebut. Sebangku dengan kami adalah mas hari, orang solo asli yang bekerja sebagai akuntan di PTPN jember. Selain itu kami juga barengan rombongan backpacker lain yaitu rombongannya mas anca, mbak nur, dkk dari Makasar. Lucu sekali tingkah polah orang-orang dari timur itu, mulai dari bahasa jawanya yang awut2an, bahasa makasarnya yang aneh sampai semua penjual makanan yang lewat pasti dibelinya. Tetapi sikap terbuka dan penerimaannya sungguh luar biasa, itu yang harus kami apresiasi.
Jombang, kertosono, nganjuk, madiun, solo dan kota-kota lain terus kami lalui, kereta kami kelas ekonomi jadi wajarlah kalau beberapa kali harus berhenti agak lama di beberapa stasiun karena harus silang atau disusul oleh kereta lain yang kelasnya lebih tinggi. Tetapi bukan karena kelas ekonomi lalu pelayanannya buruk, perjalanan kereta ini ternyata bebas asap rokok, air di toilet mengalir serta yang tak kalah pentingnya kereta yang ditarik oleh lokomotif dengan seri CC 201 31 ini bisa masuk Yogyakarta lempuyangan pada pukul 20.00 WIB. Itu artinya perjalanan dari Mojokerto ke Yogyakarta ini tergolong cepat, hanya butuh waktu 5,5 jam.
Tiba di stasiun lempuyangan adalah tujuan pertama kami. Langsung saja kami menuju mushola stasiun untuk sholat maghrib dan isya’ dengan cara jamak takhir. Baru setelah itu kami mencari pengisi perut berupa Gudeg Yogya khas stasiun lempuyangan. Disini kami juga bertemu rombongan backpacker dari Surabaya, mereka akan kembali ke Surabaya setelah beberapa hari berlibur di yogya.
Sebenarnya kami sudah bikin janji dengan Guntur untuk di jemput di stasiun jika sudah sampai di lempuyangan, tapi sengaja kami tidak ngabari dulu kalau kami sudah sampai di jogja walaupun Guntur sudah sms berkali-kali tapi kami bilang aja kalau belum sampai. Hehe…
Memang kami berencana mampir ke tugu jogja dulu dengan jalan kaki sekaligus ingin menikmati indahnya kota Yogyakarta di malam hari. Kami susuri jalanan sepanjang stasiun lempuyangan menuju tugu yogya dengan penuh semangat walaupun hujan gerimis mulai mewarnai perjalanan.
Kami melewati tujuan kedua kami yaitu jembatan kali code yang begitu fenomenal. Dari atas jembatan kali code kami bisa menikmati derasnya aliran sungai dari kawasan merapi itu, melihat perkampungan code yang padat serta banyaknya angkringan di sekitar jembatan kali code. Sungguh pemandangan khas Yogyakarta, tetapi ternyata Guntur mulai curiga kenapa sampai larut malam  belum tiba juga di yogya, dia menelpon dan terpaksa kami jujur bahwa kami telah sampai yogya dan posisi kami di kali code. Saat itu kami disuruh menunggu untuk dijemput dan sebagai tamu kami menurut aja, tak berapa lama sebuah mobil Honda jazz silver menghampiri kami dan ternyata Guntur dan seorang temannya berada di dalamnya. Kami langsung naik mobil menuju tugu yogya, malam itu rencana kami untuk jalan kaki sedikit mengalami kegagalan, kami terpaksa naik mobil mewah walaupun tugu yogya sudah 200 meter  di depan kami dan kami sudah berjalan sekitar 1,8 km tetapi ndak apalah, hitung-hitung pemanasan buat perjalanan esok hari.
Tugu yogya merupakan suatu ciri khas Yogyakarta yang terletak sejajar dalam garis imajiner antara keraton ngayogyakarto hadiningrat, Tugu Yogya dan Laut Kidul Yogyakarta. Dahulu puncak tugu ini berbentuk bundar dan ukuran tugunya lebih besar dari ukuran yang sekarang, dan dinamakan tugu golong gilik. Sejenak kami menikmati suasana malam di kawasan tugu  jogja ini dengan ditemani gerimis kecil dan banyaknya wisatawan lain yang berfoto bahkan nekat mendekat ke tugu dengan menyebrang jalanan yogya yang padat pada malam itu. Kami berfoto dan merekam suasana yogya malam itu secukupnya. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 malam dan kami meninggalkan tugu untuk melanjutkan perjalanan ke tujuan wisata selanjutnya.
Saat itu kami berpisah sementara dengan krisna yang ingin berkunjung ke rumah mbahnya di daerah sleman, dia dijemput saudaranya  dan kami kembali naik Honda jazz bersama Guntur untuk menyusuri jalanan malioboro ke selatan untuk menuju alun-alun kidul, tujuan ketiga kami di Yogyakarta.  Perjalanan kami masih ditemani rintik hujan yang terus membasahi bumi Yogyakarta malam itu. Sampai di alun-alun kidul kami tertarik dengan permainan MASANGIN (berjalan dengan mata tertutup untuk melewati pohon beringin kembar yang ada di tengah alun-alun).
Beberapa kali kami gagal mencapai tujuan yang ada, nuansa mistis permainan ini sangat kental terasa. Begitu mata ditutup maka aura kegelapan menyelimuti seluruh tubuh kami, apalagi selama melakukan permainan beberapa kali  hujan juga tetap turun. Konon katanya siapa yang bisa berhasil melakukan permainan ini maka segala keinginannya akan terwujud,  kami tidak ambil pusing dengan adanya  mitos itu, yang ada kami hanya ingin merasakan cerianya permainan tradisional Yogyakarta itu.
Selesai dengan permainan kami istirahat sejenak di gedung kuno disebelah timur alun-alun kidul, gedung besar yang kuat sekali nuansa mistisnya apalagi tidak semua lampu dihidupkan. Gedung itu bernama SASONO HINGGIL DWI ABAD yang juga sekaligus tujuan keempat kami.  Setelah berfoto maka kami meninggalkan tempat tersebut dan menuju perumahan kampoeng ambarukmo 3 untuk beristirahat malam karena saat itu jam sudah menunjukkan pukul 23.00 WIB, sampai di perumahan  kami sekedar istirahat mempersiapkan stamina untuk keesokan harinya.
Pagi harinya ternyata cuaca kurang bersahabat, hujan turun dengan lebat. Perjalanan yang rencananya kami mulai pukul  7.00 akhirnya harus mundur hingga 1 jam, karena hari jum’at maka kami takut waktunya kurang untuk mengunjungi list tempat wisata yang ada. Sekitar jam 08.00 kami diantar Guntur untuk keluar dijalan raya untuk mencari bus trans  jogja yang akan mengantarkan kami keliling kota, sambil menunggu bus kami berfoto di depan Ambarukmo Plasa yang bisa dibilang tujuan kelima kami, walaupum hanya foto didepannya  saja, hehe…… (bersambung ke bagian 2)

Senin, 12 Maret 2012

KEINDAHAN CINTA

Kala cinta datang menggoda
Kala sobatpun terlena
Belaian angin menyepoi
Nan cantik terbelai
Apa ini semua ...?
Cinta yang tak terduga
Menunggu....menanti
Keindahan sayang ini
Jalan lurus terbentang
Bintang dan bulan jalan beriringan
Tuk hantar cintaku padanya


Mojokerto
Agustus 18,2005

Selasa, 18 Oktober 2011

MENCARI KETEPATAN PRESISI DI BERBAGAI MAQAM


Apa anda pernah memakan masakan yang enak? Pernah juga kan merasakan masakan yang sama sekali tidak menggugah selera makan? Suatu masakan bisa dikatakan enak dan sedap apabila campuran antara gula dan garamnya pas, tidak terlalu manis tidak pula terlalu asin. Takaran bumbunya seimbang sesuai dengan aturan dan resep yang ada. Tak hanya itu, berbagai bahan dan bumbu itu diolah sedemikian rupa dengan berbagai cara yang sudah diukur ketepatannya sehingga mampu menimbulkan aroma sedap dan akhirnya terciptalah masakan yang berkualitas.
Bukan hanya bahan-bahan istimewa yang mampu menghasilkan masakan istimewa, tetapi ketepatan presisi dalam memasak juga merupakan faktor terpenting penentu kualitas masakan. Berbagai macam takaran, aturan bumbu-bumbu, dan cara memasak yang menggunakan ketepatan presisi yang pas yang akhirnya menentukan sedap tidaknya masakan.
Berbicara lebih luas, tidak hanya memasak yang membutuhkan suatu ketepatan presisi. Pak SBY saat ini pun sedang mengatur kembali berbagai posisi para menteri untuk mendukungnya mengatur jalannya pemerintahan. Reshufle kabinet tentu juga mempertimbangkan ketepatan presisi minimal menurut Pak SBY sendiri, karena memang reshufle kabinet merupakan hak prerogatif presiden.
Atau terlalu tinggi kalau kita melihat ketepatan presisi yang digunakan presiden, kita lihat saja para pegawai yang telah menerima gaji bulanannya. Mereka tentu membagi gaji itu sesuai kebutuhannya masing-masing, sebagian untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian untuk foya-foya, sebagian untuk bayar hutang, sebagian untuk jajan, sebagian untuk sedekah dan sebagian lainnya untuk ditabung. Pengaturan itu tentu juga diatur ketepatan presisinya sehingga antara pemasukan dan pengeluaran tidak sampai besar pasak daripada tiang.
Para mahasiswa yang baru lulus juga sibuk mencari pekerjaan yang cocok bagi dirinya. Cocok dalam bidang keilmuannya, cocok dengan lingkungannya, cocok dengan jerih payahnya dan yang utama pasti juga melihat kecocokan dengan gaji yang akan diterimanya. Semuanya membutuhkan pemikiran yang mendalam tentang ketepatan presisinya.
Melihat hal tersebut, semua aspek pasti membutuhan pemikiran dan tindakan yang harus dipaskan dulu dengan presisinya. Jika saja aspek ketepatan presisi tidak dipertimbangkan sebelumnya maka tak dapat dipungkiri lagi pasti banyak ketidak beresan yang terjadi kemudian. Ibarat masakan pasti ada yang keasinan, anyep, terlalu pedas atau malah hambar dan tidak terasa apa-apa. Untuk itu maka penting kita pertimbangkan ketepatan presisi segala macam hal yang akan kita lakukan sehingga tujuan dan cita-cita yang diharapkan lebih cepat terwujud dan tentunya hal itu juga bisa mempersiapkan diri kita untuk menghadapi segala macam hambatan yang akan terjadi. InsyaAllah... ()
Mojokerto, 16 Oktober 2011
Terinspirasi oleh Maiyah Bangbang Wetan Oktober 11

Sabtu, 01 Oktober 2011

AKU, ENGKAU, KITA


Aku sungguh teringat akan kita kawan,
Satu tahun, dua tahun dan tiga tahun berlalu
Masa disaat kita saling mengeratkan genggaman, saling membisikkan semangat dan saling menghangatkan dengan sebuah senyuman.
Lalu lalu empat tahun selesai.
Itu hari ini lho, bukan esok, kemarin atau mungkin lusa
Tak usahlah Aku berangan terlalu terlampau
Tiga tahun, empat tahun atau lima tahun lagi dimanakah aku dan engkau?
Ketika tiba masa-masa kangen itu muncul
Dimanakah kita semua? Dimanakah kita akan bermaqam saat itu ada?
Aku terbayang senyuman awal saat kita pertama kali bertemu,
Aku terbayang renyahnya canda tawa kita,
Aku terbayang sedu sedan sedih dan perjuangan yang telah kita lakukan
Aku teringat betapa akrab dan sangat dekatnya kita semua
Sehingga mungkin aku tak kan mampu menanti saat tiba waktunya kita akan mengakhiri semuanya
Tapi sekarang hari itu telah tiba, datang dan menghampiri kita semua.
Sekarang senyuman itu ada saat kita di beri nikmat kelulusan.
Senyuman kawan, senyuman, bukan tangisan dan kesedihan
Kita pasti meneruskan canda tawa kita di maqam kita masing-masing
Kita harus tetap dekat dan akrab, sampai kapanpun dan seterusnya
Berawal dari tak saling mengerti, kini kita saling memahami.
Inilah yang akan kita jaga bersama, selamanya….. Amien.

Surabaya, 23 September 2011